Teknologi Spread Spectrum
Spread spectrum adalah
sebuah metode komunikasi dimana semua sinyal komunikasi disebar di
seluruh spektrum frekuensi yang tersedia. Pada awalnya dikembangkan
untuk kepentingan militer dan intelejen. Ide dasarnya adalah untuk
menyebarkan sinyal informasi melalui bandwidth yang lebih luas untuk
mencegah dilakukannya pencegatan informasi dan gangguan-gangguan
lainnya.
Istilah spread spectrum digunakan karena pada sistem ini sinyal yang ditransmisikan memiliki bandwidth yang jauh lebih lebar dari bandwidth sinyal informasi (mencapai ribuan kali). Proses penebaran bandwidth sinyal informasi ini disebut spreading. Spread spectrum jenis pertama yang dikembangkan dikenal dengan nama frequency hopping atau lompatan frekuensi. Versi yang terbaru adalah direct squence spread spectrum. Kedua teknik ini dipergunakan dalam berbagai produk jaringan nirkabel. Selain itu juga untuk berbagai aplikasi lainnya, seperti telepon nirkabelt (cordless telephone). Sebuah sistem spread-spectrum harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
Istilah spread spectrum digunakan karena pada sistem ini sinyal yang ditransmisikan memiliki bandwidth yang jauh lebih lebar dari bandwidth sinyal informasi (mencapai ribuan kali). Proses penebaran bandwidth sinyal informasi ini disebut spreading. Spread spectrum jenis pertama yang dikembangkan dikenal dengan nama frequency hopping atau lompatan frekuensi. Versi yang terbaru adalah direct squence spread spectrum. Kedua teknik ini dipergunakan dalam berbagai produk jaringan nirkabel. Selain itu juga untuk berbagai aplikasi lainnya, seperti telepon nirkabelt (cordless telephone). Sebuah sistem spread-spectrum harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
- Sinyal yang dikirimkan menduduki bandwidth yang jauh lebih lebar daripada bandwidth minimum yang diperlukan untuk mengirimkan sinyal informasi
- Pada pengirim terjadi proses spreading yang menebarkan sinyal informasi dengan bantuan sinyal kode yang bersifat independen terhadap informasi
- Pada penerima terjadi proses despreading yang melibatkan korelasi antara sinyal yang diterima dan replika sinyal kode yang dibangkitkan sendiri oleh suatu generator lokal.
Dalam komunikasi spread
spectrum semakin lebar bandwidth akan semakin tahan terhadap jamming dan
akan semakin terjamin tingkat kerahasiaannya. Disamping itu akan
semakin banyak kanal yang bisa dipakai. Seperti yang di terangkan oleh
Shanon , salah seorang ahli statistik telekomunikasi, dalam ilmu
komunikasi dinyatakan bahwa kapasitas kanal akan sebanding dengan
bandwidth transmisi dan logaritmik dari S/N-nya. Jadi agar sistem
komunikasi dapat bekerja dengan kapasitas kanal yang tetap pada level
daya noise yang tinggi (S/N yang rendah), dapat dilakukan dengan jalan
memperbesar bandwidth transmisi W. Disamping itu Shannon juga
mengemukakan bahwa sebuah kanal dapat mentransmisikan informasi dengan
probabilitas salah yang kecil apabila terhadap infromasi tersebut
dilakukan pengkodean yang tepat dan rate infromasi yang tidak melebihi
kapasitas kanal meskipun kanal tersebut memuat interferensi acak.
II. Konsep dari Sistem Spread Spectrum
Gambar 1, Diagram Sistem Spread Spectrum
Gambar
diatas menyajikan gambaran tentang karakteristik kunci beberapa sistem
spektum penyebaran. Input dimasukkan ke dalam suatau channel enkoder
yang menghasilkan sebuah sinyal analog dengan bandwidth sempit relatif
di seputar beberapa frekuensi pusat. Sinyal ini kemudian dimodulasikan
menggunakan deretan digit-digit tidak beraturan yang disebut
pseudorandom sequence. Efek dari modulasi ini adalah untuk meningkatkan
secara signifikan bandwith (yang menyebarkan spektrum) sinyal yang
ditransmisikan. Pada ujung penerima, deretan digit yang sama di gunakan
untuk mendemodulasikan sinyal spektrum penyebaran. Terakhir sinyal
dimasukkan ke dalam sebuah channel dekoder untuk melindungi data.
III Keuntungan
- Imunitas dari berbagai noise dan multipath distortion
- Termasuk gangguan (Jamming)
- Dapat mengacak sinyal
- Hanya receiver yang mengetahui pengacakan kode dapat mendapat kembali sinyal
- Beberapa user dapat mengunakan bandwidth yang lebih besar dengan sedikit interferency
- Telepon seluler
- Code division multiplexing (CDM)
- Code division multiple access (CDMA)
IV. Jumlah Pseudorandom
Komentar mengenai jumlah
pseudorandom adalah ordenya. Jumlah ini didapat melalui suatu algoritma
menggunakan beberapa nilai awal yang disebut seed. Algoritma tersebut
dapat ditentukan dan karenanya menghasilkan deretan bilangan yang tidak
acak secara statistik. Bagaimanapun juga, bila algoritmanya baik,
deretan yang dihasilkan akan melalui beberapa ujian yang memeriksa
kecakapannya. Jumlah – jumlah semacam itu ditunjukkan sebagai
pseudorandom number. Poin terpenting dari hal ini adalah walaupun
mengetahui tentang algoritma dan seed, sangatlah sulit untuk
memprediksikan deretan tersebut. Oleh sebab itu, hanya receiver, yang
membagi informasi ini dengan sebuah transmitterlah yang mampu
mengkodekan sinyal dengan sukses.
V. Sifat – Sifat Random
Apakah sifat sinyal pseudo
random akan mampu mewakili suatu sinyal yang benar – benar random? Ada 3
sifat dasar untuk mengetahui apakah sekuen biner dapat memenuhi
kriteria random.
- Balanced property
- Kondisi balance (seimbang) untuk sekuen biner yang bagus mensyaratkan jumlah bit 1 dan jumlah bit 0 yang muncul sama. Beda yang diijinkan maksimum adalah 1 digit.
- Run Property
- Suatu run didefinasikan sebagai suatu sekuen tipe single pada bit – bit (binary digit). Kemunculan digit yang berlawanan dalam suatu sekuen akan memenuhi run yang baru. Panjang run adalah jumlah digit – digit didalam run. Pada suatu periode yang tersusun dari 1 dan 0, diketahui bahwa 0.5 run masing – masing tipe 1, sepanjang sekitar 1/4 panjang 2, dan 1/8 pada panjang 3,dst.
- Correlation Property
- Jika suatu periode pada sekuen dibandingkan secara term by term dengan suatu siklus yang digeser terhadap dirinya sendiri, akan didapat periode dimana sinyal itu akan memiliki perulangan. Pada dua sinyal dengan periode yang sama, to s/d tn, maka keduanya benar-benar mirip. Kondisi ini dalam bentuk ternormalisasi memiliki nilai korelasi 1. Untuk suatu kondisi dimana bentuk sinyal pertama bertolak belakang dengan sinyal kedua, maka dinyatakan memiliki korelasi –1. Gambaran korelasi dua sinyal secara sederhana seperti Gambar berikut ini. Gambar a dan b memiliki korelasi 1, sedangkan gambar a dengan c memiliki korelasi –1.
Gambar 2, Sifat-sifat sinyal random
VI. Jenis Spread Spectrum
A. Frequency Hopping Spread Spectrum (FHSS)
Gambar 3, Penggunaan channel pada FHSS
Dalam
skema Frequency Hopping Spread Spectrum, sinyal disiarkan sepanjang
rangkaian frekuensi radio yang kelihatannya acak, melompat dari
frekuensi ke frekuensi pada titik pisah (split-socond intervals). Sebuah
receiver, melompat di antara frekuensi secara sinkron dengan
transmitter, lalu menangkap pesan. Sehingga orang-orang yang berusaha
mendengarkan secara diam diam hanya akana mendengar bunyi titik titik
yang tidak jelas. Upaya untuk mengganggu sinyal hanya akan berhasil
dengan cara menghantam sedikit bit-nya.
Gambar 4, Sistem Frequency Hopping Spread Spectrum pada Transmitter
Untuk
transmisi data biner dimasukkan ke dalam sebuah modulator dengan
menggunakan beberapa skema pengkodean digital-ke-analog, semacam
Frequency-shift keying(FSK) atau Binary Phase-Shift Keying(BPSK). Sinyal
yang dihasilkan dipusatkan disekitar beberapa frekuensi dasar. Sumber
jumlah pseudorandom menyajikan apa yang dilampirkan dalam indeks didalam
tabel frekuensi. Pada masing masing interval yang berurutan, dipilih
sebuah frekuensi baru dari tabel. Frekuensi ini kemudian dimodulasikan
melalui sinyal yang dihasilkan dari modulator awal agar menghasilkan
sinyal yang baru dengan bentuk yang sama namun sekarang dipusatkan di
tengah tengah frekuensi yang dipilih dari tabel.
Sedangkan pada penerima,
sinyal spektrum penyebaran didemodulasikan menggunakan sejumlah
frekuensi yang sama yang didapatkan dari tabel kemudian didemoduasikan
agar menghasilkan data output. Sebagai contoh, bila FSK digunakan,
modulator memilih salah satu dari dua frekuensi, katakanlah f0 atau f1,
berkaitan dengan transmisi biner 1 atau biner 0.Sinyal FSK biner yang
dihasilkan diartikan ke dalam frekuensi melalui suatu jumlah yang
ditentukan melalui urutan output dari generator sumber pseudorandom.
Sehingga, bila frekuensi yang dipilih pada waktu I adalah f1 maka sinyal
pada waktu I adalah baik fi + fo maupun fi + f1.
Sinyal ditransfer secara
bergantian dengan menggunakan 1MHz atau lebih dalam rentang sebuah pita
frekuensi tertentu yang tetap. Prinsip dari metoda frequency hopping
adalah menggunakan pita yang sempit yang bergantian dalam memancarkan
sinyal radio. Secara periodik antara 20 sampai dengan 400ms (milidetik)
sinyal berpindah dari channel frekuensi satu ke channel frekuensi
lainnya. Pita 2.4GHz dibagi-bagi ke dalam beberapa sub bagian yang
disebut channel/kanal. Salah satu standar pembagian channel ini adalah
sistem ETSI (European Telecommunication Standard Institute) dengan
membagi channel, dimulai dengan channel 1 pada frekuensi 2.412MHz,
channel 2 pada frekuensi 2.417MHz, channel 3 pada frekuensi 2.422MHz dan
seterusnya setiap 5MHz bertambah sampai channel 13.
Dengan teknologi DSSS maka
untuk satu perangkat akan bekerja menggunakan 4 channel (menghabiskan
20MHz, tepatnya 17MHz). Dalam implementasinya secara normal pada lokasi
dan arah yang sama hanya 3 dari 13 kanal DSSS yang bisa dipakai.
Parameter lain yang memungkinkan penggunaan lebih dari 3 channel ini
adalah penggunaan antena (directional antenna) dan polarisasi antena itu
sendiri (horisontal/vertikal).
Slow and Fast FHSS
- Frekwensi bergeser tiap-tiap Tc Detik
- Durasi dari signal element adalah Ts detik
- Ts³Slow FHSS memiliki Tc
- Fast FHSS memiliki Tc < Ts
- Biasanya fast FHSS memberikan improved performance dalam noise (or jamming)
Slow Frequency Hop Spread Spectrum menggunakan MFSK (M=4, k=2)
Fast Frequency Hop Spread Spectrum menggunakan MFSK (M=4, k=2)
B. Direct Sequence Spread Spectrum (DSSS)
Direct Sequence Spread
Spectrum dipilih karena adanya kemudahan dalam mengacak data yang akan
dispreading. Dalam DSSS spreading hanya menggunakan sebuah generator
noise yang periodik yang di sebut Pseudo Noise Generator. Kode yang
digunakan pada sistem spread spectrum memiliki sifat acak tetapi
periodik sehingga disebut sinyal acak semu (pseudo random). Kode
tersebut bersifat sebagai noise tapi deterministik sehingga disebut juga
noise semu (pseudo noise). Pembangkit sinyal kode ini disebut Pseudo
Random Generator (PRG) atau pseudo noise generator (PNG). PRG inilah
yang akan melebarkan dan sekaligus mengacak sinyal data yang akan
dikirimkan. Dalam skema ini, masing masing bit pada sinyal yang asli
ditampilkan oleh bit- bit multipel pada sinyal yang ditransmisikan, yang
disebut kode tipis(chipping). Kode tipis yang menyebarkan secara
langsung sepanjang band frekuensi yang lebih luas sebanding dengan
jumlah bit yang dipergunakan. Oleh karena itu, kode tipis 10-bit
menyebarkan sinyal sepanjang band frekuensi yang 10 kali lebih besar
dibandingkan kode tipis 1-bit.
Satu
teknik dengan spektrum penyebaran deretan langsung adalah dengan
mengkombinasikan stream informasi digital dengan bit stream pseudorandom
menggunakan OR-eksklusif contoh pada gambar 6.
Gambar 6.Contoh Direct Sequence Spread Spectrum
Patut
dicatat bahwa bit informasi dari satu membalikan bit-bit pseudorandom
dalam kombinasi tersebut, sementara bit informasi 0 menyebabkan bit-bit
pseudorandom ditransmisikan tanpa mengalami inversi. Kombinasi bit
stream memiliki data rate yang sama dengan deretan pseudorandom yang
asli, sehingga memiliki bandwidth yang lebih lebar dibandingkan dengan
stream informasi. Pada contoh ini, bit stream lebih besar 4 kali lipat
rate informasi.
Gambar 7a.Direct Sequence Spread Spectrum pada Transmitter
Gambar 7b.Direct Sequence Spread Spectrum pada Receiver
Gambar
7 menunjukkan implementasi deretan langsung yang khusus. Dalam hal ini,
stream informasi dan stream pseudorandom bahkan dikonversi ke
sinyal-sinyal analog lalu dikombinasikan, bukannya menunjukkan
OR-eksklusif dari dua stream dan kemudian memodulasikannya. Penyebaran
spektrum dapat dicapai melalui teknik deretan langsung yang ditentukan
dengan mudah. Sebagai contoh, anggap saja sinyal informasi memiliki
lebar bit sebesar tb yang ekuivalen terhadap rate data = 1/tb. Dalam hal
ini, bandwidth sinyal tergantung pada teknik pengkodean, kira-kira
2/tb. Hampir sama dengan itu, bandwidth sinyal pseudorandom asalah 2/Tc
dimana Tc adalah lebar bit pseudorandom input. Bandwidth sinyal yang
dikombinasikan kira-kira sebesar jumlah dari 2 bandwidth tersebut.
Jumlah penyebaran yang dicapai adalah hasil langsung dari rate data
pseudorandom. Semakin besar data rate pseudorandom input, semakin besar
jumlah penyebarannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar