2.1 WIRELESS LAN
Wireless local area network (WLAN) atau disebut juga dengan Jaringan Lokal Nirkabel (LAN Nirkabel) menghubungkan dua atau lebih peralatan dengan memanfaatkan metode pendistribusion tanpa kabel (biasanya dengan spektrum-sebar atau gelombang radio OFDM), dan biasanya menyediakan koneksi antara sebuah titik akses dengan cakupan internet yang lebih luas. Hal ini memudahkan mobilitas pengguna tanpa terputus dari jaringan (network).
Area dapat berjarak dari sebuah ruangan tunggal hingga ke
satu area (misalnya gedung). Tulang punggung jaringan biasanya
menggunakan kable, dengan satu atau lebih titik akses jaringan
menyambungkan pengguna nirkabel ke jaringan berkabel.
Wireless local area network (WLAN) atau disebut juga dengan Jaringan Lokal Nirkabel (LAN Nirkabel) menghubungkan dua atau lebih peralatan dengan memanfaatkan metode pendistribusion tanpa kabel (biasanya dengan spektrum-sebar atau gelombang radio OFDM), dan biasanya menyediakan koneksi antara sebuah titik akses dengan cakupan internet yang lebih luas. Hal ini memudahkan mobilitas pengguna tanpa terputus dari jaringan (network).
LAN nirkabel adalah suatu jaringan
nirkabel yang menggunakan frekuensi radio untuk komunikasi antara
perangkat komputer dan akhirnya titik akses yang merupakan dasar dari
transiver radio dua arah yang tipikalnya bekerja di bandwith 2,4 GHz
(802.11b, 802.11g) atau 5 GHz (802.11a). Kebanyakan peralatan mempunyai
kualifikasi Wi-Fi, IEEE 802.11b atau akomodasi IEEE 802.11g dan
menawarkan beberapa level keamanan seperti WEP dan atau WPA.
LAN Nirkabel menjadi sangat popular untuk
pemakaian rumahan karena kemudahan instalasinya dan manfaat komersial
yang banyak yang ditawarkan kepada pengguna; seringnya dalam bentuk
gratis. LAN Nirkabel banyak dimanfaatkan di kota-kota besar, misalnya di
Kantor Pemerintahan untuk menghubungkan satu wilayah kerja dengan
wilayah kerja lainnya.
2.2 SEJARAH WIRELESS LAN
Norman Abramson, seorang profesor di Universitas Hawaii, mengembangkan jaringan komunikasi komputer nirkabel pertama di dunia, ALOHAnet, yang berbiaya rendah dan hampir serupa radio. Sistem ini melibatkan tujuh komputer dari empat pulau untuk berkomunikasi dengan komputer pusat di Pulau Oahu tanpa menggunakan saluran telepon.
Norman Abramson, seorang profesor di Universitas Hawaii, mengembangkan jaringan komunikasi komputer nirkabel pertama di dunia, ALOHAnet, yang berbiaya rendah dan hampir serupa radio. Sistem ini melibatkan tujuh komputer dari empat pulau untuk berkomunikasi dengan komputer pusat di Pulau Oahu tanpa menggunakan saluran telepon.
Pada tahun 1979, FR Gfeller dan U. Bapst
menerbitkan makalah di IEEE Prosiding yang berisi laporan tentang
ujicoba jaringan nirkabel untuk komunikasi dengan menggunakan
inframerah-tersebar. Tak lama kemudian, pada tahun 1980, P. Ferrert
melaporkan percobaannya tentang aplikasi eksperimental dari sebuah kode
tunggal penyebaran spektrum radio untuk komunikasi terminal nirkabel
dalam Konferensi Nasional Telekomunikasi IEEE. Pada tahun 1984,
perbandingan antara inframerah dan komunikasi spread spectrum CDMA untuk
jaringan informasi kantor nirkabel diterbitkan oleh Kaveh Pahlavan
dalam Simposium Jaringan Komputer IEEE yang kemudian terbit di Majalah
Komunikasi IEEE Masyarakat. Pada bulan Mei 1985, upaya Marcus telah
membuat FCC mengumumkan eksperimental band ISM untuk aplikasi komersial
teknologi spektrum sebar. Kemudian, M. Kavehrad melaporkan sebuah sistem
PBX nirkabel eksperimental menggunakan divisi kode akses.
Laporan-laporan ini mendorong kegiatan industri radio portabel dan
ponsel yang signifikan dalam pengembangan generasi baru jaringan area
lokal nirkabel dan perbaruan diskusi dan informasi-informasi dalam
bidang ini.
Generasi pertama dari modem data nirkabel
dikembangkan pada awal tahun 1980 oleh operator radio amatir, yang
sering disebut sebagai radio paket. Mereka menambahkan sebuah modem band
suara komunikasi data, dengan kecepatan data di bawah 9.600-bit /s,
untuk sistem radio jarak pendek yang ada, biasanya dalam band amatir
yang berjarak dua meter. Generasi kedua modem nirkabel dikembangkan
segera setelah pengumuman FCC di band eksperimental untuk penggunaan
teknologi spektrum-sebar non-militer. Modem ini berkecepatan data
ratusan kbit/s. Generasi ketiga dari modem nirkabel kemudian ditujukan
untuk kompatibilitas dengan LAN yang ada dengan kecepatan data dalam
Mbit/s. Beberapa perusahaan mengembangkan produk generasi ketiga dengan
kecepatan data diatas 1 Mbit/s dan beberapa produk sudah diumumkan pada
lokakarya IEEE Workshop tentang Wireless LAN.
Pada Lokakarya IEEE pertama perihal LAN
Nirkabel diadakan pada tahun 1991. Pada saat itu produk pertama LAN
nirkabel baru saja muncul di pasar dan komite IEEE 802.11 baru saja
memulai kegiatannya untuk mengembangkan sebuah standar LAN nirkabel.
Fokus lokakarya pertama adalah evaluasi terhadap teknologi alternatif.
Pada tahun 1996, teknologi ini dianggap telah cukup berkembang, berbagai
aplikasi telah diidentifikasi dan teknologi yang memungkinkan aplikasi
ini telah pula dipahami dengan baik. Chip set ditujukan untuk
implementasi dan aplikasi LAN nirkabel, yang menjadi kunci teknologi
untuk pertumbuhan pasar yang cepat. Wireless LAN semakin banyak
digunakan di rumah sakit, bursa efek, di gedung-gedung seperti kampus
dan perkantoran untuk akses nomaden, jaringan LAN point-to-point,
jaringan ad-hoc, dan aplikasi yang lebih besar melalui internetworking.
Standar, varian dan alternatif IEEE 802.11 seperti forum
interoperabilitas wireless LAN dan Eropa HiperLAN telah membuat kemajuan
pesat demikian halnya dengan PCS tak berlisensi ‘Layanan Komunikasi
Pribadi’ dan supernet, yang kemudian diubah namanya menjadi U-NII, telah
membuka peluang baru.

Gambar WLAN Protocol
Perangkat WLAN pada awalnya begitu mahal
dan digunakan sebagai alternatif LAN kabel di tempat dimana pengkabelan
sangat sulit atau tidak mungkin. Pengembangan utama meliputi solusi
spesifik industri and protokol proprietary, tetapi pada akhir 1990-an
digantikan dengan standar, versi, dan jenis utama dari IEEE 802.11
(dalam produk dengan menggunakan Wi-Fi sebagai nama merek). Namun, ada
juga beberapa produk yang tidak berhasil di pasaran, seperti ATM
alternatif dengan menggunakan teknologi standar 5 GHz, yaitu HiperLAN/2.
Sejak tahun 2002 telah ada standar yang lebih baru ditambahkan ke
802,11; 802.11n yang beroperasi di kedua band yakni 5GHz dan 2,4 Ghz
pada kecepatan 300 Mbit/s, dengan begitu, kebanyakan router yang lebih
baru termasuk yang diproduksi oleh Apple Inc telah dapat disiarkan
jaringan nirkabel pada kedua band nirkabel, yang disebut dualband.
Sebuah HomeRF yang dibentuk pada tahun 1997 telah pula mempromosikan
teknologi yang bertujuan untuk digunakan di rumah, tetapi gagal dan
dibubarkan pada akhir 2002.
2.3 TEKNOLOGI WI-FI
Wi-Fi, singkatan dari wireless fidelity merupakan teknologi yang memungkinkan pengguna komputer dan peripheral sejenis yang mendukung teknologi tersebut (PDA, telefon genggam) untuk berkomunikasi dalam jaringan LAN atau mengakses internet dengan jaringan broadband nirkabel. Dengan menggunakan sebuah Wi-fi acces point atau router, maka dapat dibangun sebuah jaringan LAN atau internet nirkabel dalam cakupan 300 square feet (300 kaki persegi) atau sekira 100 persegi.
Wi-Fi hanya dapat di akses dengan komputer, laptop, PDA atau Cellphone yang telah dikonfigurasi dengan Wi-Fi certified Radio. Untuk Laptop, pemakai dapat menginstall Wi-Fi PC Cards yang berbentuk kartu di PCMCIA Slot yang telah tersedia. Untuk PDA, pemakai dapat menginstall Compact Flash format Wi-Fi radio di slot yang telah tersedia. Bagi pengguna yang komputer atau PDA – nya menggunakan Windows XP, hanya dengan memasangkan kartu ke slot yang tersedia, Windows XP akan dengan sendirinya mendeteksi area disekitar Anda dan mencari jaringan Wi-Fi yang terdekat dengan Anda. Amatlah mudah menemukan tanda apakah peranti tersebut memiliki fasilitas Wi-Fi, yaitu dengan mencermati logo Wi-Fi CERTIFIED pada kemasannya.
Wi-Fi, singkatan dari wireless fidelity merupakan teknologi yang memungkinkan pengguna komputer dan peripheral sejenis yang mendukung teknologi tersebut (PDA, telefon genggam) untuk berkomunikasi dalam jaringan LAN atau mengakses internet dengan jaringan broadband nirkabel. Dengan menggunakan sebuah Wi-fi acces point atau router, maka dapat dibangun sebuah jaringan LAN atau internet nirkabel dalam cakupan 300 square feet (300 kaki persegi) atau sekira 100 persegi.
Wi-Fi hanya dapat di akses dengan komputer, laptop, PDA atau Cellphone yang telah dikonfigurasi dengan Wi-Fi certified Radio. Untuk Laptop, pemakai dapat menginstall Wi-Fi PC Cards yang berbentuk kartu di PCMCIA Slot yang telah tersedia. Untuk PDA, pemakai dapat menginstall Compact Flash format Wi-Fi radio di slot yang telah tersedia. Bagi pengguna yang komputer atau PDA – nya menggunakan Windows XP, hanya dengan memasangkan kartu ke slot yang tersedia, Windows XP akan dengan sendirinya mendeteksi area disekitar Anda dan mencari jaringan Wi-Fi yang terdekat dengan Anda. Amatlah mudah menemukan tanda apakah peranti tersebut memiliki fasilitas Wi-Fi, yaitu dengan mencermati logo Wi-Fi CERTIFIED pada kemasannya.
Teknologi wi-fi mengenal istilah hotspot,
yang diartikan sebagai tempat di mana internet dapat diakses dengan
menggunakan teknologi wi-fi. Dengan istilah sederhana, hotspot adalah
daerah yang masuk ke dalam cakupan sebuah wi-fi access point atau
router.
Dewasa ini, sejumlah tempat umum telah
menyediakan layanan hotspot gratis untuk menarik pengunjung. Fasilitas
hotspot telah memanjakan pengunjung dengan layanan internet tanpa bayar
dengan kecepatan yang cukup memuaskan, sekaligus memberikan keuntungan
pada pemilik tempat-tempat hotspot tersebut untuk meraup keuntungan dari
banyaknya jumlah pengunjung yang datang (misalnya pada café-café dan
rumah makan). Fasilitas hotspot terdapat pada kantor-kantor layanan
publik, perusahaan komersial dan taman-taman kota juga kampus dan
café-café.
Gambar Hotspot
Menilai perkembangan teknologi komunikasi
ke depan, sudah dapat dipastikan teknologi nirkabel akan mendominasi
sektor ini. Kepraktisan nirkabel yang ditawarkan dengan menggunakan
ternologi inframerah, bluetooth, dan wi-fi menjadi pertimbangan para
pengguna untuk memanfaatkan teknlogi yang semakin diminati ini.
2.4 Perkembangan WLAN
Jaringan tanpa kabel sebenarnya tidak sesulit sistem jaringan kabel bahkan dinilai relatif lebih mudah. Sistem jaringan WIFI atau Wireless tidak memerlukan kabel sebagai penghubungan antar jaringan dan komputer. Bila jenis jaringan kabel yang memanfaatkan kabel Coaxial atau UTP memerlukan kabel sebagai media tranfer, dengan Wireless network hanya dibutuhkan ruang atau space di mana jarak jangkau network (jaringan) dibatasi hanya oleh kekuatan pancaran signal radio dari masing masing komputer.
Jaringan tanpa kabel sebenarnya tidak sesulit sistem jaringan kabel bahkan dinilai relatif lebih mudah. Sistem jaringan WIFI atau Wireless tidak memerlukan kabel sebagai penghubungan antar jaringan dan komputer. Bila jenis jaringan kabel yang memanfaatkan kabel Coaxial atau UTP memerlukan kabel sebagai media tranfer, dengan Wireless network hanya dibutuhkan ruang atau space di mana jarak jangkau network (jaringan) dibatasi hanya oleh kekuatan pancaran signal radio dari masing masing komputer.
Jaringan Lokal Nirkabel (WLAN) didasari
pada spesifikasi IEEE 802.11, yakni sekumpulan standar yang kemudian
berkembang dengan beberapa spesifikasi, antara lain 802.11a, 802.11b,
802.11g, dan 802.11n mengenai Wi-Fi, Hotspot, LAN, dan Sharing Internet.
Secara teknis operasional, Wi-Fi merupakan
salah satu varian teknologi komunikasi dan informasi yang bekerja pada
jaringan dan perangkat WLAN. Dengan kata lain, Wi-Fi adalah nama dagang
(certification) yang diberikan pabrikan kepada perangkat telekomunikasi
(Internet) yang bekerja di jaringan WLANs dan sudah memenuhi kualitas
interoperability yang dipersyaratkan.
Wi-Fi (Wireless Fidelity) adalah koneksi
tanpa kabel seperti handphone dengan mempergunakan teknologi radio
sehingga pemakainya dapat mentransfer data dengan cepat dan aman. Karena
sistem WIFI mengunakan transmisi frekuensi secara bebas, maka pancaran
signal yang ditransmit pada unit WIFI dapat ditangkap oleh komputer lain
sesama pemakai Wifi. Namun, dengan ketentuan telah memperoleh izin
untuk masuk ke sebuah network. Pada teknologi WIFI ditambahkan juga
sistem pengaman misalnya WEP (Wired Equivalent Privacy) untuk pengaman
sehingga antar computer yang telah memiliki otorisasi dapat saling
berbicara.
Jaringan wireless dapat digunakan untuk transmisi suara maupun data. Lihat bagan berikut :
Pada frekuensi Wi-Fi, ada 11 channel yang diizinkan beroperasi masing-masing 5 MHz, yaitu sebagai berikut :
• Channel 1 – 2,412 MHz;
• Channel 2 – 2,417 MHz;
• Channel 3 – 2,422 MHz;
• Channel 4 – 2,427 MHz;
• Channel 5 – 2,432 MHz;
• Channel 6 – 2,437 MHz;
• Channel 7 – 2,442 MHz;
• Channel 8 – 2,447 MHz;
• Channel 9 – 2,452 MHz;
• Channel 10 – 2,457 MHz;
• Channel 11 – 2,462 MHz;
• Channel 2 – 2,417 MHz;
• Channel 3 – 2,422 MHz;
• Channel 4 – 2,427 MHz;
• Channel 5 – 2,432 MHz;
• Channel 6 – 2,437 MHz;
• Channel 7 – 2,442 MHz;
• Channel 8 – 2,447 MHz;
• Channel 9 – 2,452 MHz;
• Channel 10 – 2,457 MHz;
• Channel 11 – 2,462 MHz;
Tabel 1 Channel Wi-Fi
2.5 MODE KONEKSI
Agar sebuah computer dapat saling terhubung dengan network wireless maka dapat dilakukan dalam mode Ad-Hoc atau mode Infrastructure.
Agar sebuah computer dapat saling terhubung dengan network wireless maka dapat dilakukan dalam mode Ad-Hoc atau mode Infrastructure.
2.5.1 Mode Ad-Hoc
Jaringan ad-hoc adalah jaringan di mana stasiun berkomunikasi hanya peer to peer (P2P). Jaringan ini dapat dikonfigurasi dengan menggunakan Perangkat Layanan Independen Dasar (IBSS).
Jaringan ad-hoc adalah jaringan di mana stasiun berkomunikasi hanya peer to peer (P2P). Jaringan ini dapat dikonfigurasi dengan menggunakan Perangkat Layanan Independen Dasar (IBSS).
Gambar Peer-to-Peer atau ad-hoc wireless LAN
Sebuah jaringan peer-to-peer (P2P)
memungkinkan perangkat nirkabel untuk secara langsung berkomunikasi satu
sama lain. Perangkat nirkabel dalam jangkauan satu sama lain dan dapat
saling menemukan serta berkomunikasi langsung tanpa melibatkan titik
akses pusat. Metode ini biasanya digunakan oleh dua komputer sehingga
mereka dapat terhubung satu sama lain untuk membentuk jaringan.
Tidak seperti pada jaringan kabel yang
mana jaringan peer to peer hanya berlangsung antara dua komputer,
jaringan peer to peer pada jaringan WLAN dapat dilakukan oleh tiga
komputer secara bersama. Semua komputer dapat berhubungan secara
langsung dan menggunakan sumber daya yang ada secara bersama.
Pada jaringan ad-hoc, masing-masing
komputer cukup dipasang kartu WLAN dan tidak diperlukan peralatan lain.
Pada jaringan ini, hanya dimungkinkan terjadinya hubungan antar komputer
dalam kelompok jaringan tersebut dan tidak dapat untuk mengakses
jaringan lain kecuali salah satu komputer difungsikan sebagai bridge
(akan dijelaskan berikutnya). Jika jumlah komputer sudah mencapai tiga
dan ada komputer lain yang ingin masuk pada jaringan ini, maka biasanya
tidak akan berhasil sampai salah satu dari komputer yang ada memutuskan
hubungan dengan jaringan. Intinya, pada jaringan peer to peer WLAN hanya
diijinkan untuk hubungan antar tiga komputer.
Jika kekuatan sinyal meter digunakan dalam
situasi ini, tidak dapat membaca kekuatan secara akurat dan dapat
menyesatkan, karena register kekuatan sinyal terkuat, yang mungkin
merupakan komputer terdekat.
IEEE 802.11 mendefinisikan lapisan fisik
(PHY) dan lapisan MAC (Media Access Control) berdasarkan CSMA/CA
(Carrier Sense Multiple Access dengan Collision Avoidance). Spesifikasi
802,11 mencakup ketentuan-ketentuan yang dirancang untuk meminimalkan
tabrakan yang disebabkan karena dua unit mobile dalam jangkauan jalur
akses umum, tetapi di luar jangkauan satu sama lain.
Pada 802,11 memiliki dua mode dasar
operasi: modus ad-hoc dan mode infrastruktur. Dalam mode ad-hoc, unit
mobile mengirimkan langsung secara peer-to-peer. Dalam mode
infrastruktur, unit mobile berkomunikasi melalui jalur akses yang
berfungsi sebagai jembatan untuk infrastruktur jaringan kabel. Karena
komunikasi nirkabel menggunakan media yang lebih terbuka untuk
komunikasi dibandingkan dengan LAN kabel, 802,11 desainer juga termasuk
mekanisme enkripsi bersama-kunci: Wired Equivalent Privacy (WEP), Wi-Fi
Protected Access (WPA, WPA2), untuk mengamankan jaringan komputer
nirkabel
2.5.2 Mode Infrastruktur
Mode Infrastruktur adalah koneksi antara dua komputer atau lebih, dengan Access Point (AP) sebagai pengatur lalu lintasnya. Acces Point adalah suatu perangkat yang dapat memancarkan sinyal Wifi dalam jangkauan tertentu (sering disebut hotspot). Melalui sinyal Wifi tersebut, beberapa client bisa terkoneksi ke jaringan dan AP-lah yang akan mengatur lalu lintas datanya.
Mode Infrastruktur adalah koneksi antara dua komputer atau lebih, dengan Access Point (AP) sebagai pengatur lalu lintasnya. Acces Point adalah suatu perangkat yang dapat memancarkan sinyal Wifi dalam jangkauan tertentu (sering disebut hotspot). Melalui sinyal Wifi tersebut, beberapa client bisa terkoneksi ke jaringan dan AP-lah yang akan mengatur lalu lintas datanya.
Gambar Mode Infrastruktur
2.6 KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN WLAN
Wireless local area network (LAN Nirkabel) adalah sistem komunikasi data yang fleksibel yang dapat diimplementasikan sebagai perpanjangan atau pun sebagai alternatif pengganti untuk jaringan kabel LAN. Dengan menggunakan teknologi frekuensi radio, wireless LAN mengirim dan menerima data melalui media udara, dengan meminimalisasi kebutuhan akan sambungan kabel. Dengan begitu, wireless LAN telah dapat mengkombinasikan antara konektivitas data dengan mobilitas user.
Wireless local area network (LAN Nirkabel) adalah sistem komunikasi data yang fleksibel yang dapat diimplementasikan sebagai perpanjangan atau pun sebagai alternatif pengganti untuk jaringan kabel LAN. Dengan menggunakan teknologi frekuensi radio, wireless LAN mengirim dan menerima data melalui media udara, dengan meminimalisasi kebutuhan akan sambungan kabel. Dengan begitu, wireless LAN telah dapat mengkombinasikan antara konektivitas data dengan mobilitas user.
2.6.1 Keunggulan WLAN
Dengan wireless LAN, user bisa membagi akses informasi tanpa harus mencari tempat sebagai sambungan kabel ke jaringan, dan network manager bisa menset up atau menambah jaringan tanpa harus melakukan instalasi atau pun penambahan kabel. Wireless LAN menawarkan beberapa kelebihan seperti produktivitas, kenyamanan, dan keuntungan dari segi biaya bila dibandingkan dengan jaringan kabel tradisional.
Dengan wireless LAN, user bisa membagi akses informasi tanpa harus mencari tempat sebagai sambungan kabel ke jaringan, dan network manager bisa menset up atau menambah jaringan tanpa harus melakukan instalasi atau pun penambahan kabel. Wireless LAN menawarkan beberapa kelebihan seperti produktivitas, kenyamanan, dan keuntungan dari segi biaya bila dibandingkan dengan jaringan kabel tradisional.
· Mobility : Sistem wireless LAN bisa
menyediakan user dengan informasi access yang real-time, dimana saja
dalam suatu organisasi. Mobilitas semacam ini sangat mendukung
produktivitas dan peningkatan kualitas pelayanan apabila dibandingkan
dengan jaringan kabel
· Installation Speed and Simplicity : Instalasi sistem wireless LAN bisa cepat dan sangat mudah dan bisa mengeliminasi kebutuhan penarikan kabel yang melalui atap atau pun tembok.
· Installation Flexibility : Teknologi wireless memungkinkan suatu jaringan untuk bisa mencapai tempat-tempat yang tidak dapat dicapai dengan jaringan kabel.
· Reduced Cost-of-Ownership : Meskipun investasi awal yang dibutuhkan oleh wireless LAN untuk membeli perangkat hardware bisa lebih tinggi daripada biaya yang dibutuhkan oleh perangkat wired LAN hardware, namun bila diperhitungkan secara keseluruhan, instalasi dan life-cycle costnya, maka secara signifikan lebih murah. Dan bila digunakan dalam lingkungan kerja yang dinamis yang sangat membutuhkan seringnya pergerakan dan perubahan yang sering maka keuntungan jangka panjangnya pada suatu wireess LAN akan jauh lebih besar bila dibandingkan dengan wired LAN.
· Scalability : Sistem wireless LAN bisa dikonfigurasikan dalam berbagai macam topologi untuk memenuhi kebutuhan pengguna yang beragam. Konfigurasi dapat dengan mudah diubah Mulai dari jaringan peer-to-peer yang sesuai untuk jumlah pengguna yang kecil sampai ke full infrastructure network yang mampu melayani ribuan user dan memungkinkan roaming dalam area yang luas.
· Installation Speed and Simplicity : Instalasi sistem wireless LAN bisa cepat dan sangat mudah dan bisa mengeliminasi kebutuhan penarikan kabel yang melalui atap atau pun tembok.
· Installation Flexibility : Teknologi wireless memungkinkan suatu jaringan untuk bisa mencapai tempat-tempat yang tidak dapat dicapai dengan jaringan kabel.
· Reduced Cost-of-Ownership : Meskipun investasi awal yang dibutuhkan oleh wireless LAN untuk membeli perangkat hardware bisa lebih tinggi daripada biaya yang dibutuhkan oleh perangkat wired LAN hardware, namun bila diperhitungkan secara keseluruhan, instalasi dan life-cycle costnya, maka secara signifikan lebih murah. Dan bila digunakan dalam lingkungan kerja yang dinamis yang sangat membutuhkan seringnya pergerakan dan perubahan yang sering maka keuntungan jangka panjangnya pada suatu wireess LAN akan jauh lebih besar bila dibandingkan dengan wired LAN.
· Scalability : Sistem wireless LAN bisa dikonfigurasikan dalam berbagai macam topologi untuk memenuhi kebutuhan pengguna yang beragam. Konfigurasi dapat dengan mudah diubah Mulai dari jaringan peer-to-peer yang sesuai untuk jumlah pengguna yang kecil sampai ke full infrastructure network yang mampu melayani ribuan user dan memungkinkan roaming dalam area yang luas.
2.6.2 Kelemahan WLAN
Wifi menggunakan gelombang radio pada frekwensi milik umum yang bersifat bebas digunakan oleh semua kalangan dengan batasan batasan tertentu. Setiap wifi memiliki area jangkauan tertentu tergantung power dan antenna yang digunakan. Tidak mudah melakukan pembatasan area yang dijangkau pada wifi. Hal ini menyebabkan berbagai hal dimungkinan terjadi pada lapisan fisik, antara lain:
Wifi menggunakan gelombang radio pada frekwensi milik umum yang bersifat bebas digunakan oleh semua kalangan dengan batasan batasan tertentu. Setiap wifi memiliki area jangkauan tertentu tergantung power dan antenna yang digunakan. Tidak mudah melakukan pembatasan area yang dijangkau pada wifi. Hal ini menyebabkan berbagai hal dimungkinan terjadi pada lapisan fisik, antara lain:
· Interception atau penyadapan. Hal ini
sangat mudah dilakukan, dan sudah tidak asing lagi bagi para hacker.
Berbagai tools dengan mudah di peroleh di internet. Berbagai teknik
kriptografi dapat di bongkar oleh tools tools tersebut.
· Injection. Pada saat transmisi melalui radio, dimungkinkan dilakukan injection karena berbagai kelemahan pada cara kerja wifi dimana tidak ada proses validasi siapa yang sedang terhubung atau siapa yang memutuskan koneksi saat itu.
· Jamming. Jamming sangat dimungkinkan terjadi, baik disengaja maupun tidak disengaja karena ketidaktahuan pengguna wireless tersebut. Pengaturan penggunaan kanal frekwensi merupakan keharusan agar jamming dapat di minimalisir. Jamming terjadi karena frekwensi yang digunakan cukup sempit sehingga penggunaan kembali channel sulit dilakukan pada area yang padat jaringan nirkabelnya.
· Locating Mobile Nodes. Dengan berbagai software, setiap orang mampu melakukan wireless site survey dan mendapatkan informasi posisi letak setiap Wifi dan beragam konfigurasi masing masing. Hal ini dapat dilakukan dengan peralatan sederhana spt PDA atau laptop dengan di dukung GPS sebagai penanda posisi.
· Access Control. Dalam membangun jaringan wireless perlu di design agar dapat memisahkan node atau host yang dapat dipercaya dan host yang tidak dapat dipercaya. Sehingga diperlukan access control yang baik.
· Hijacking. Serangan MITM (Man In The Middle) yang dapat terjadi pada wireless karena berbagai kelemahan protokol tersebut sehingga memungkinkan terjadinya hijacking atau pengambilalihan komunikasi yang sedang terjadi dan melakukan pencurian atau modifikasi informasi.
· Injection. Pada saat transmisi melalui radio, dimungkinkan dilakukan injection karena berbagai kelemahan pada cara kerja wifi dimana tidak ada proses validasi siapa yang sedang terhubung atau siapa yang memutuskan koneksi saat itu.
· Jamming. Jamming sangat dimungkinkan terjadi, baik disengaja maupun tidak disengaja karena ketidaktahuan pengguna wireless tersebut. Pengaturan penggunaan kanal frekwensi merupakan keharusan agar jamming dapat di minimalisir. Jamming terjadi karena frekwensi yang digunakan cukup sempit sehingga penggunaan kembali channel sulit dilakukan pada area yang padat jaringan nirkabelnya.
· Locating Mobile Nodes. Dengan berbagai software, setiap orang mampu melakukan wireless site survey dan mendapatkan informasi posisi letak setiap Wifi dan beragam konfigurasi masing masing. Hal ini dapat dilakukan dengan peralatan sederhana spt PDA atau laptop dengan di dukung GPS sebagai penanda posisi.
· Access Control. Dalam membangun jaringan wireless perlu di design agar dapat memisahkan node atau host yang dapat dipercaya dan host yang tidak dapat dipercaya. Sehingga diperlukan access control yang baik.
· Hijacking. Serangan MITM (Man In The Middle) yang dapat terjadi pada wireless karena berbagai kelemahan protokol tersebut sehingga memungkinkan terjadinya hijacking atau pengambilalihan komunikasi yang sedang terjadi dan melakukan pencurian atau modifikasi informasi.
Pada lapisan MAC (data layer) juga
terdapat kelemahan yakni jika sudah terlalu banyak node (client) yang
menggunakan channel yang sama dan terhubung pada AP yang sama, maka
bandwidth yang mampu dilewatkan akan menurun. Selain itu MAC address
sangat mudah di spoofing (ditiru atau di duplikasi) membuat banyak
permasalahan keamanan. Lapisan data atau MAC juga digunakan dalam
otentikasi dalam implementasi keamanan wifi berbasis WPA Radius (802.1x
plusTKIP/AES).
Adapun Keunikan jaringan lokal nirkabel antara lain:
· Sinyalnya terputus-putus
(intermittence) yang disebabkan oleh adanya benda antara pengirim dan
penerima sehingga sinyal terhalang dan tidak sampai pada penerima
(gejala ini sangat terasa pada komunikasi wireless dengan IR).
· Bersifat broadcast akibat pola radiasinya yang memancar ke segala arah, sehingga semua terminal dapat menerima sinyal dari pengirim.
· Sinyal pada media radio sangat komplek untuk dipresentasikan kerena sinyalnya menggunakan bilangan imajiner, memiliki pola radiasi dan memiliki polarisasi.
· Mengalami gejala yang disebut multipath yaitu propagasi radio dari pengirim ke penerima melalui banyak jalur yang LOS dan yang tidak LOS/terpantul.
· Bersifat broadcast akibat pola radiasinya yang memancar ke segala arah, sehingga semua terminal dapat menerima sinyal dari pengirim.
· Sinyal pada media radio sangat komplek untuk dipresentasikan kerena sinyalnya menggunakan bilangan imajiner, memiliki pola radiasi dan memiliki polarisasi.
· Mengalami gejala yang disebut multipath yaitu propagasi radio dari pengirim ke penerima melalui banyak jalur yang LOS dan yang tidak LOS/terpantul.
2.7 CARA KERJA WLAN
Wireless LAN menggunakan electromagnetic airwaves (radio atau infrared) untuk menukarkan informasi dari satu titik ke titik lainnya tanpa harus tergantung pada sambungan secara fisik.Gelombang radio biasa digunakan sebagai pembawa karena dapat dengan mudah mengirimkan daya ke penerima. Data ditransmikan dengan cara ditumpangkan pada gelombang pembawa sehingga bisa diekstrak pada ujung penerima. Data ini umumnya digunakan sebagai pemodulasi dari pembawa oleh sinyal informasi yang sedang ditransmisikan. Begitu datanya sudah dimodulasikan pada gelombang radio pembawa, sinyal radio akan menduduki lebih dari satu frekuensi, hal ini terjadi karena frekuensi atau bit rate dari informasi yang memodulasi ditambahkan pada sinyal carrier.
Wireless LAN menggunakan electromagnetic airwaves (radio atau infrared) untuk menukarkan informasi dari satu titik ke titik lainnya tanpa harus tergantung pada sambungan secara fisik.Gelombang radio biasa digunakan sebagai pembawa karena dapat dengan mudah mengirimkan daya ke penerima. Data ditransmikan dengan cara ditumpangkan pada gelombang pembawa sehingga bisa diekstrak pada ujung penerima. Data ini umumnya digunakan sebagai pemodulasi dari pembawa oleh sinyal informasi yang sedang ditransmisikan. Begitu datanya sudah dimodulasikan pada gelombang radio pembawa, sinyal radio akan menduduki lebih dari satu frekuensi, hal ini terjadi karena frekuensi atau bit rate dari informasi yang memodulasi ditambahkan pada sinyal carrier.
Multiple radio carrier bisa ada dalam
suatu ruang dalam waktu yang bersamaan tanpa terjadi interferensi satu
sama lain jika gelombang radio yang ditransmisikan berbeda frekuensinya.
Untuk mengekstrak data, radio penerimanya diatur dalam satu frekuensi
dan menolak frekuensi-frekuensi lain. Pada konfigurasi wireless LAN
tertentu, transmitter/receiver (transceiver) device, biasa disebut
access point, terhubung pada jaringan kabel dari lokasi yang fixed
menggunakan kabel standard. Sebuah access point bisa mensupport sejumlah
group kecil dari user dan bisa dipakai dalam jarak antara seratus
sampai beberapa ratus kaki.
Gambar Access Point Outdoor
Access point (atau antena yang terhubung
pada access point) biasanya diletakkan pada tempat yang tinggi tapi
dapat juga diletakkan dimana saja untuk mendapatkan cakupan yang
dikehendaki. End user access wireless LAN menggunakan wireless-LAN
adapters, biasa terdapat pada PC card pada notebook atau palmtop
computer, atau sebagai card dalam desktop computer, atau terintegrasi
dalam hand-held computer.
Gambar Access Point Outdoor
2.8 ARSITEKTUR WLAN
2.8.1 Stasiun
Semua komponen yang dapat terhubung ke media nirkabel dalam jaringan disebut sebagai stasiun. Semua stasiun dilengkapi dengan kontroler antarmuka jaringan nirkabel (WNICs). Stasiun nirkabel jatuh ke salah satu dari dua kategori: akses poin, dan klien. Akses poin (AP), biasanya router, adalah BTS untuk jaringan nirkabel. Mereka mengirim dan menerima frekuensi radio untuk perangkat berkemampuan nirkabel untuk berkomunikasi. Klien nirkabel dapat berupa perangkat mobile seperti laptop, personal digital assistant (PDA), telepon IP dan smartphone, atau perangkat tetap seperti desktop dan workstation yang dilengkapi dengan jaringan nirkabel antarmuka.
2.8 ARSITEKTUR WLAN
2.8.1 Stasiun
Semua komponen yang dapat terhubung ke media nirkabel dalam jaringan disebut sebagai stasiun. Semua stasiun dilengkapi dengan kontroler antarmuka jaringan nirkabel (WNICs). Stasiun nirkabel jatuh ke salah satu dari dua kategori: akses poin, dan klien. Akses poin (AP), biasanya router, adalah BTS untuk jaringan nirkabel. Mereka mengirim dan menerima frekuensi radio untuk perangkat berkemampuan nirkabel untuk berkomunikasi. Klien nirkabel dapat berupa perangkat mobile seperti laptop, personal digital assistant (PDA), telepon IP dan smartphone, atau perangkat tetap seperti desktop dan workstation yang dilengkapi dengan jaringan nirkabel antarmuka.
Gambar BTS Jaringan Nirkabel
2.8.2 Perangkat Dasar layanan (Basic Service Set)
Perangkat layanan dasar (BSS) adalah himpunan semua stasiun yang dapat berkomunikasi satu sama lain. Setiap BSS memiliki identifikasi (ID) disebut BSSID, yang adalah alamat MAC dari titik akses melayani BSS.
Perangkat layanan dasar (BSS) adalah himpunan semua stasiun yang dapat berkomunikasi satu sama lain. Setiap BSS memiliki identifikasi (ID) disebut BSSID, yang adalah alamat MAC dari titik akses melayani BSS.
Gambar Basic Service Set
Ada dua jenis BSS: Independent BSS (juga disebut sebagai IBSS), dan infrastruktur BSS. Sebuah BSS Independen (IBSS) adalah sebuah jaringan ad-hoc yang berisi jalur tanpa akses, yang berarti mereka tidak dapat terhubung ke setiap himpunan layanan dasar lainnya.
Ada dua jenis BSS: Independent BSS (juga disebut sebagai IBSS), dan infrastruktur BSS. Sebuah BSS Independen (IBSS) adalah sebuah jaringan ad-hoc yang berisi jalur tanpa akses, yang berarti mereka tidak dapat terhubung ke setiap himpunan layanan dasar lainnya.
2.8.3 Perangkat Perluasan layanan (Extended Service Set)
Gambar Extended Service Set
Sebuah perangkat perluasan layanan (ESS) adalah seperangkat BSS yang saling terhubung. Akses poin dalam sebuah ESS dihubungkan oleh suatu sistem distribusi. Setiap ESS memiliki ID yang disebut SSID yang merupakan 32-byte (maksimum) string karakter.
Sebuah perangkat perluasan layanan (ESS) adalah seperangkat BSS yang saling terhubung. Akses poin dalam sebuah ESS dihubungkan oleh suatu sistem distribusi. Setiap ESS memiliki ID yang disebut SSID yang merupakan 32-byte (maksimum) string karakter.
2.9 SISTEM DISTRIBUSI WLAN
Sistem Distribusi Nirkabel memungkinkan interkoneksi nirkabel jalur akses dalam jaringan IEEE 802.11. Hal ini memungkinkan jaringan nirkabel untuk diperluas menggunakan beberapa jalur akses tanpa perlu tulang punggung kabel untuk menghubungkan mereka, seperti yang secara tradisional diperlukan. Keuntungan penting dari WDS atas solusi lain adalah bahwa ia mempertahankan alamat MAC dari paket klien di seluruh hubungan antara jalur akses.
Sistem Distribusi Nirkabel memungkinkan interkoneksi nirkabel jalur akses dalam jaringan IEEE 802.11. Hal ini memungkinkan jaringan nirkabel untuk diperluas menggunakan beberapa jalur akses tanpa perlu tulang punggung kabel untuk menghubungkan mereka, seperti yang secara tradisional diperlukan. Keuntungan penting dari WDS atas solusi lain adalah bahwa ia mempertahankan alamat MAC dari paket klien di seluruh hubungan antara jalur akses.
Gambar WDS
Jalur akses dapat berupa, base station utama, relay atau terpencil. Sebuah base station utama secara khas dihubungkan ke Ethernet kabel. Sebuah stasiun relay relai basis data antara stasiun pangkalan terpencil, klien nirkabel atau stasiun relay lainnya ke salah satu base station utama atau relay lain. Sebuah stasiun pangkalan terpencil menerima koneksi dari klien nirkabel dan melewati koneksi ke stasiun relay atau utama. Sambungan antara “klien” yang dibuat menggunakan alamat MAC bukan dengan menentukan tugas IP.
Jalur akses dapat berupa, base station utama, relay atau terpencil. Sebuah base station utama secara khas dihubungkan ke Ethernet kabel. Sebuah stasiun relay relai basis data antara stasiun pangkalan terpencil, klien nirkabel atau stasiun relay lainnya ke salah satu base station utama atau relay lain. Sebuah stasiun pangkalan terpencil menerima koneksi dari klien nirkabel dan melewati koneksi ke stasiun relay atau utama. Sambungan antara “klien” yang dibuat menggunakan alamat MAC bukan dengan menentukan tugas IP.
Semua BTS dalam sistem distribusi nirkabel
harus dikonfigurasi untuk menggunakan saluran radio yang sama, dan
kunci WEP atau WPA berbagi jika mereka digunakan. Mereka dapat
dikonfigurasi untuk pengidentifikasian perangkat layanan yang berbeda.
WDS juga mengharuskan setiap base station dikonfigurasi untuk meneruskan
kepada perangkat lain dalam sistem.
WDS juga dapat disebut sebagai mode
repeater karena bertugas menjembatani dan menerima klien nirkabel pada
saat yang sama (tidak seperti tradisional bridging). Perlu dicatat,
bagaimanapun, bahwa throughput dalam metode ini dibelah dua untuk semua
klien yang terhubung secara nirkabel.
Ketika sulit untuk menghubungkan semua
jalur akses dalam jaringan dengan kabel, juga perlu dipertimbangkan
untuk memasang titik akses sebagai repeater.
2.10 ROAMING
Ada dua definisi untuk LAN nirkabel jelajah:
Ada dua definisi untuk LAN nirkabel jelajah:
· Internal Roaming (1): The Mobile
Station (MS) bergerak dari satu titik akses (AP) ke AP lain dalam
jaringan rumah karena kekuatan sinyal terlalu lemah. Sebuah server
otentikasi (RADIUS) mengandaikan ulang otentikasi MS melalui 802.1x
(misalnya dengan PEAP ). Penagihan dari QoS adalah di jaringan rumah.
Sebuah Mobile Station roaming dari satu titik akses ke lain sering
menyela aliran data antara Mobile Station dan aplikasi yang terhubung ke
jaringan. Mobile Station, misalnya, secara berkala memantau keberadaan
jalur akses alternatif (perangkat yang akan menyediakan koneksi yang
lebih baik). Pada beberapa titik, berdasarkan mekanisme proprietary,
Mobile Station memutuskan untuk kembali bergaul dengan jalur akses yang
memiliki sinyal nirkabel yang kuat. Mobile Station, bagaimanapun, dapat
kehilangan koneksi dengan jalur akses sebelum bertemu dengan jalur akses
lain. Untuk memberikan koneksi yang handal dengan aplikasi, Mobile
Station umumnya harus menyertakan perangkat lunak yang menyediakan
kehandalan.
· Eksternal Roaming (2): MS (klien) bergerak ke WLAN lain, Internet Service Provider Wireless (WISP) dan membutuhkan Hotspot. Pengguna dapat secara independen mengakses dari jaringan rumah menggunakan jaringan asing lain, jika dimungkinkan. Harus ada otentikasi khusus dan sistem penagihan untuk layanan mobile di jaringan asing.
· Eksternal Roaming (2): MS (klien) bergerak ke WLAN lain, Internet Service Provider Wireless (WISP) dan membutuhkan Hotspot. Pengguna dapat secara independen mengakses dari jaringan rumah menggunakan jaringan asing lain, jika dimungkinkan. Harus ada otentikasi khusus dan sistem penagihan untuk layanan mobile di jaringan asing.
2.11 KEAMANAN W-LAN
Jaringan Wifi memiliki lebih banyak kelemahan dibanding dengan jaringan kabel. Saat ini perkembangan teknologi wifi sangat signifikan sejalan dengan kebutuhan sistem informasi yang mobile. Banyak penyedia jasa wireless seperti hotspot komersil, ISP, Warnet, kampus-kampus maupun perkantoran sudah mulai memanfaatkan wifi pada jaringan masing masing, tetapi sangat sedikit yang memperhatikan keamanan komunikasi data pada jaringan wireless tersebut. Hal ini membuat para hacker menjadi tertarik untuk mengexplore keamampuannya untuk melakukan berbagai aktifitas yang biasanya ilegal menggunakan wifi.
Salah satu altivitas dan metode yang dilakukan para hacker wireless ataupun para pemula dalam melakukan hacking (pembajakan) adalah wardriving. Wardriving adalah usaha untuk mendapatkan informasi tentang suatu jaringan wifi dan mendapatkan akses terhadap jaringan wireless tersebut. Umumnya bertujuan untuk mendapatkan koneksi internet, tetapi banyak juga yang melakukan untuk maksud-maksud tertentu mulai dari rasa keingintahuan, coba coba, research, tugas praktikum, kejahatan dan lain lain. Ada tiga metode keamanan yang diterapkan dalam jaringan WLAN sebagai berikut.
· WEP (Wired Equivalent Privacy). Metode ini dimaksudkan untuk menghentikan intersepsi isyarat gelombang elektromagnetik oleh user yang tidak berhak. Metode ini dilakukan dengan cara memberi semua klien dan access point dengan kunci enkripsi dan dekripsi yang sama. WEP didasarkan pada algoritma enkripsi RC4 dari RSA Data Systems.
· SSID (Service Set Identifier). Metode ini dilakukan dengan cara memberi suatu SSID yang berlaku sebagai password sederhana yang memungkinkan suatu jaringan WLAN dipisahkan dalam beberapa network yang berbeda. Pengenal ini diprogram dalam access point, sehingga semua klien yang akan mengakses jaringan ini harus dikonfigurasi menggunakan pengenal SSID yang sesuai.
· Filter Alamat MAC (Media Access Control). Metode ini digunakan untuk membatasi akses pada jaringan WLAN menggunakan daftar alamat MAC pada klien. Alamat MAC ini dimasukkan dalam access point sedemikian, sehingga hanya klien yang punya alamat MAC yang terdaftar saja yang dapat mengakses jaringan WLAN.
Jaringan Wifi memiliki lebih banyak kelemahan dibanding dengan jaringan kabel. Saat ini perkembangan teknologi wifi sangat signifikan sejalan dengan kebutuhan sistem informasi yang mobile. Banyak penyedia jasa wireless seperti hotspot komersil, ISP, Warnet, kampus-kampus maupun perkantoran sudah mulai memanfaatkan wifi pada jaringan masing masing, tetapi sangat sedikit yang memperhatikan keamanan komunikasi data pada jaringan wireless tersebut. Hal ini membuat para hacker menjadi tertarik untuk mengexplore keamampuannya untuk melakukan berbagai aktifitas yang biasanya ilegal menggunakan wifi.
Salah satu altivitas dan metode yang dilakukan para hacker wireless ataupun para pemula dalam melakukan hacking (pembajakan) adalah wardriving. Wardriving adalah usaha untuk mendapatkan informasi tentang suatu jaringan wifi dan mendapatkan akses terhadap jaringan wireless tersebut. Umumnya bertujuan untuk mendapatkan koneksi internet, tetapi banyak juga yang melakukan untuk maksud-maksud tertentu mulai dari rasa keingintahuan, coba coba, research, tugas praktikum, kejahatan dan lain lain. Ada tiga metode keamanan yang diterapkan dalam jaringan WLAN sebagai berikut.
· WEP (Wired Equivalent Privacy). Metode ini dimaksudkan untuk menghentikan intersepsi isyarat gelombang elektromagnetik oleh user yang tidak berhak. Metode ini dilakukan dengan cara memberi semua klien dan access point dengan kunci enkripsi dan dekripsi yang sama. WEP didasarkan pada algoritma enkripsi RC4 dari RSA Data Systems.
· SSID (Service Set Identifier). Metode ini dilakukan dengan cara memberi suatu SSID yang berlaku sebagai password sederhana yang memungkinkan suatu jaringan WLAN dipisahkan dalam beberapa network yang berbeda. Pengenal ini diprogram dalam access point, sehingga semua klien yang akan mengakses jaringan ini harus dikonfigurasi menggunakan pengenal SSID yang sesuai.
· Filter Alamat MAC (Media Access Control). Metode ini digunakan untuk membatasi akses pada jaringan WLAN menggunakan daftar alamat MAC pada klien. Alamat MAC ini dimasukkan dalam access point sedemikian, sehingga hanya klien yang punya alamat MAC yang terdaftar saja yang dapat mengakses jaringan WLAN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar